MAKALAH
Diajukan dalam rangka memenuhi Tugas Mata Kuliah
Filsafat Olahraga

Oleh :
Nama : Siti Jumiah
NPM : 15230200
Kelas : 4F
PENDIDIKAN
JASMANI KESEHATAN DAN REKREASI
FAKULTAS
PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL DAN KEOLAHRAGAAN
UNIVERSITAS
PGRI SEMARANG
2017
PERKEMBANGAN
OLAHRAGA DAN PENDIDIKAN JASMANI DI INDONESIA
MAKALAH
Diajukan dalam rangka memenuhi Tugas Mata Kuliah
Filsafat Olahraga
Oleh :
Nama : Siti Jumiah
NPM : 15230200
Kelas : 4F
PENDIDIKAN
JASMANI KESEHATAN DAN REKREASI
FAKULTAS
PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL DAN KEOLAHRAGAAN
UNIVERSITAS
PGRI SEMARANG
2017
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur penulis panjatkan pada Tuhan yang Maha Esa. Karena atas limpahan
rahmat-Nya, penulis mampu menyelesaikan makalah ini sesuai dengan waktu yang
telah ditentukan.
Makalah
ini penulis maksud agar penulis dapat berkontribusi, dalam bidang Filsafat
Keolahragaan.
Pada
kesempatan yang berbahagia ini penulis mengucapkan terimakasih pada :
1.
Bapak
Dr.
Muhdi,
S.H, M.Hum selaku Rektor
Universitas PGRI Semarang
2.
Ibu
Dra,Titik Haryati S.Pd, M.Pd. selaku Dekan FPIPSKR Universitas
PGRI Semarang
3.
Bapak
Agus Wiyanto, S.Pd.,M.Pd. selaku Kepala Program Studi PJKR
4.
Bapak
Maftukhin Hudah, M.Pd. selaku Dosen Wali PJKR Kelas F
5.
Bapak
Asep Ardiyanto M.Or selaku Dosen Pengampu Mata Kuliah Filsafat Olahraga.
6.
Semua
pihak yang tidak mungkin penulis sebut satu persatu yang telah berkontribusi
membantu menyelesaikan makalah ini.
Penulis harap makalah ini
dapat bermanfaat khususnya dalam bidang Filsafat Olahraga.
Akhirnya penulis
menyampaikan permohonan maaf jika masih terdapat kekurangan pada makalah ini.
Semarang, 14 Maret
2017
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.............................................................................. i
KATA PENGANTAR............................................................................ ii
DAFTAR ISI.......................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah............................................................................. 2
1.3 Tujuan................................................................................................ 2
1.4 Metode.............................................................................................. 2
1.5 Sistematika Penulisan........................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Sejarah perkembangan olahraga........................................................ 3
2.2 Pengembangan pendidikan jasmani dan olahraga di
Indonesia........ 8
BAB III PENUTUP
3.1 Simpulan............................................................................................ 12
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pendidikan jasmani merupakan
pendidikan yang melibatkan interaksi antara peserta didik dengan lingkunganya
yang dikembangkan melalui aktivitas jasmani untuk meningkatkan keterampilan
motorik dan mengembangkan nilai-nilai yang mencakup aspek kognitif, afektif,
serta nilai-nilai sosial seperti saling menghargai, kerjasama, berkompetisi
dengan sehat, tidak kenal lelah, dan pantang menyerah. Pendidikan jasmani lebih
mengutamakan untuk memperoleh pengalaman gerak yang lebih banyak sehingga siswa
dapat menambah tabungan gerak yang bermanfaat bagi kehidupannya. Pendidikan
jasmani beroriantasi pada pembudayaan gerak bagi peserta didik sehingga
kebugaran jasmani dapat tercapai. Pendidikan jasmani tidak dapat disamakan
dengan pendidikan olahraga.
Pendidikan jasmani sangat berbeda
dengan pendidikan olahraga. Pendidikan jasmani lebih menekankan pada
tercapainya pendidikan sedangkan pendidikan olahraga lebih menekankan pada
pencapaian suatu prestasi olahraga. Dalam pendidikan jasmani peserta didik
diarahkan untuk pengembangan kepribadian dan karakter sehingga arah
pelaksanaannya adalah untuk memberikan pengalaman gerak bagi peserta didik
sedangkan pendidikan olahraga lebih diarahakan pada penguasaan teknik dasar
sehingga arah pelasanaannya adalah peserta didik menguasai teknik dasar dari
salah satu cabang olahraga. Pendidikan jasmani dalam pelaksanaanya tidak
menggunakan kegiatan yang bersifat baku sehingga terdapat modifikasi-modifikasi
sehingga lebih dapat menyesuaikan dengan peserta didik sedangkan pendidikan
olahraga dalam pelaksanaanya menggunakan kegiatan yang baku sehingga
kegiatannya hanya bertumpu pada cabang yang difokuskan. Namun dalam pelaksanaan
pendidikan jasmani kita justru disamakan dengan pendidikan olahraga.
1.2
Rumusan Masalah
1.2.1
Bagaimana
perkembangan olahraga?
1.2.2
Bagaimana
pengembangan pendidikan jasmani dan olahraga di Indonesia?
1.3
Tujuan
1.3.1
Mengetahui
perkembangan olahraga
1.3.2
Mengetahui
pengembangan pendidikan jasmani dan olahraga di Indonesia
1.4
Metode
Makalah ini
menggunakan metode pengumpulan data melalui Studi Pustaka
1.4.1
Studi
pustaka
Penulis juga mendapatkan data penelitian melalui sumber pustaka antara
lain buku media, penerbitan, dan internet/media sosial.
1.5 Sistematika penulisan
Makalah ini
menggunakan sistematika penulisan sebagai berikut:
Bab I Pendahuluan yang
terdiri atas latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan, metode penulisan
dan sistematika penulisan.
Bab II Pembahasan yang
terdiri atas perkembangan pendidikan jasmani dan olahraga di Indonesia.
Bab III Penutup yang terdiri atas simpulan dan
saran.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sejarah
Perkembangan Olahraga
Pada zaman mataram 1600 sampai
dengan 1775 di setiap kabupaten terdapat sebuah lapangan yang dinamakan
aloon-aloon tempat para prajurit mengolah raganya baik berupa pencak
silat,panahan atau berkuda latihan gladi keprajuritan dinamakan “seton”.Dalam
sejarahnya olah raga di Indonesia melaju sejalan dengan perkembangan
masyarakat. Contoh olah raga tradisional di Indonesia : pasola, debus, ujungan,
dan loncat batu nias
Perhatian
masyarakat Indonesia sedikit sekali terhadap olahraga sehingga perkembangannya
tidak mencapai tingkatan yang tinggi kegiatan olahraga di masyarakat pada waktu
itu biasanya merupakan demonstrasi yang dilakukan oleh pelajar-pelajar sekolah
menengah seperti HIK ( Hollandssh Indische Kweekscholl atau sekolah guru ),
MULO ( Meer Uitgebreid Lager Onderwijs atau SMP ), AMS ( Algemeenee Middelbare
School atau SMA ) dan HBS ( Hoogere Burgerschool atau Sekolah Menengah Lima
Tahun ). Sedangkan atletik banyak menarik perhatian pelajar-pelajar sekolah
lanjutan karena sering dipertandingkan dalam acara sekolah yang
dipertandingkan, seperti: jalan, lari, lempar dan lompat. Sedangkan permainan
yang diajarkan di tingkat SD adalah kasti dan bola bakar juga ada rounders dan
kiepers. Permainan yang berkembang di masyarakat pada saat itu adalah sepak
bola dan bulu tangkis. Permainan yang berkembang pada masyarakat kelas tinggi
adalah tenis untuk kalangan bangsawan dan pelajar sedangkan tenis meja
berkembang pada masyarakat china untuk permainan asli nenek moyang Indonesia
mulai berkurang kecuali pencak silat yang berkembang di pesantren-pesantren dan
padepokan pencak silat.
Pada zaman sesudah Indonesia
memproklamirkan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus tahun 1945, dibentuklah
susunan kabinet pertama dimana kegiatan olahraga dan pendidikan jasmani berada
dibawah menteri pengajaran. Pada waktu itu pendidikan jasmani dipergunakan
dilingkungan sekolah, sedangkan olahraga digunakan untuk kegiatan olahraga di
masyarakat yang berupa cabang-cabang olahraga. Dengan dibentuknya kementarian
pengajaran, maka pemimpin-pemimpin bangsa pada waktu itu telah menunjukkan
kepeduliannya akan masalah pendidikan, yang didalamnya tercakup pula pendidikan
jasmani, namun karena baru dalam taraf penataan, maka kegiatan pendidikan
jasmani yang diatur oleh kementarian pengajaran belum banyak begitu dirasakan.
Istilah “gerak badan” masih banyak dipergunakan disekolah dasar maupun di
sekolah menengah. Ada permulaan tahun 1946 para pemimpin olahraga yang sebagian
besar terdiri dari pemimpin seperti ex GELORA (Gerakan Latihan Olahraga Rakyat,
yang didirikan pada zaman Jepang yang merupakan organisasi olahraga yang
didalamnya terdapat cabang-cabang seperti sepak bola, bulu tangkis, tenis,
dll), ex PUTERA dan juga ex pengurus ikatan sport Indonesia disingkat I.S.I
(didirikan tahun 1938) megadakan pertemuan di Surakarta tepatnya di gedung
Habipraya didpimpin oleh Dr. Abdurrachman Saleh yang mana pada pertemuan
tersebut terdapat keputusan-keputusan penting sebagai berikut:
1. Pertemuan itu dinamakan Kongres
Olahraga I (pertama) tahun 1946
2. Nama Persatuan Olahraga Indonesia
(PORI) untuk hubungan luar negeri dibentuklah Komite Olimpiade Republik
Indonesia (KORI) kegiatan PORI lebih diarahkan untuk mengiatkan cabang-cabang
olahraga yang telah menjadi anggotanya.
Seperti
dijelaskan diatas peran olahraga semakin penting pada zaman pergerakan nasional
pada 1908, yang mencapai puncaknya saat para pemuda Indonesia mendeklarasikan
Sumpah Pemuda 1928. Mereka menjadikan olahraga sebagai tekad perjuangan bangsa
untuk merdeka. Ini terlihat pada penggalan lagu Indonesia Raya yang
dikumandangkan pertama kali saat deklarasi itu: “... bangunlah jiwanya,
bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya ...”
Setelah Indonesia merdeka, olahraga
turut berperan mewujudkan cita-cita bangsa, seperti tercantum dalam
Undang-Undang Dasar 1945. Pada awalkemerdekaan,saat masa revolusi, bangsa
Indonesia menggelar Pekan Olahraga Nasional untuk pertama kalinya di Surakarta,
9 September 1948. Ini membuktikan kepada dunia
luar bahwa Indonesia bisa mengadakan kegiatan seperti apa yang dilakukan olah
negara-negara merdeka di dunia ini.
Berikut ini Penjelasan mengenai Penyelenggaraan
PON I
Pengurus besar PORI mengusulkan
kepada Pemerintah Pusat yang waktu itu berada di Yogyakarta bahwa PORI akan
menyelenggarakan Pekan Olahraga di Surakarta yang selanjutnya PB. PORI
memebentuk panitia PON. Yang mempelopori terbentuknya PON yaitu Sri Sultan
Hamengkubuwono IX, Dr. Abdul Rahman Saleh, Mr. Widodo Satrodiningrat.
Prinsip dasar PON:
·
Uaha untuk memupuk persaudaraan sesama bangsa
Indonesia
·
Untuk meningkatkan daya tahan prestasi secara nasional
·
Merupakan titik kulminasi dari seluruh kegiatan
keolahragaan di tanah air.
Peraturan Penyelenggaraan PON:
·
Tidak boleh bertepatan tahun dengan Asian Games dan
Olimpic Games, tidak boleh ada KEJURNAS kecuali cabor yang tidak ada di PON.
·
Tidak boleh lebih dari 12 hari berturut-turut termasuk
pembukaan dan penutupan.
·
Atlet adalah WNI, tercatat minimal 6 bulan sebagai penduduk
di daerah atau provinsi bersangkutan.
·
Atlet amatir sesuai ketentuan induk cabor
bersangkutan.
·
Tidak ada batasan umur, kecuali ditetapkan cabor
berlaku secara Internasional yang menentukan demikian dan peraturan hanya
berlaku untuk cabor tersebut saja.
Informasi singkat tentang pelaksanaan PON I
(Surakarta)
Ketua Umum PON I GPH Soerjo Hamid Djojo
1. Diadakan
tanggal 9 – 12 September 1948 di Surakarta
2. Acara
pembukaan PON pertama di stadion Sriwedari.
3. Peserta PON
adalah kontingan presidenan yang terdiri dari 13 kontingen yaitu :
a.
Yogyakarta
b.
Solo
c.
Surabaya
d.
Malang
e.
Kediri
f.
Madiun
g.
Semarang
h.
Pati
i.
Kedu
j.
Magelang
k.
Banyumas
l.
Bandung
m.
Jakarta
4. Cabang
olahraga yang dipertandingan 9 cabang olahraga sbb:
a.
Atletik
b.
Bola keranjang (korfbal)
c.
Bulutangkis
d.
Tenis
e.
Renang
f.
Panahan
g.
Sepak bola
h.
Bola basket
i.
Pencak Silat
5. Bendera PON
berwarna putih dengan gambar lima lingkaran (ring) olimpiade dan obor
ditengahnya diserahkan kepada regu pembewa obor di Yoyakarta oleh Presiden dan
dibawa dengan berjalan kaki secara beranting dari Yogya ke Solo
6. PON akan
dibuka tanggal 9 September 1948 oleh Presiden RI
7. PON
diselenggrakan dengan tujuan untuk menggalang Persatuan dan Kesatuan para
pemuda dan pemudi dalam wilayah Negara RI
8. Penyelenggaraan
PON juga dimaksudkan untuk melatih para atlet untuk tujuan yang lebih tinggi
lagi yaitu untuk dapat mempersiapkan diri kepertandingan Internasional seperti
Asian Games dan Olmpic Games
Keikutsertaan Indonesia di ajang Olahraga
Internasional
Setelah berhasil menyelenggarakan
PON I, PORI berubah menjadi Persatuan Olahraga Indonesia yang
singkatannya tetap PORI, sedangkan KORI menjadi KOI (Komite Olahraga
Indonesia), bertepatan dengan penyelenggaraan
PON II yang dilaksanakan di Jakarta. PORI dan KOI menyelenggarakan kongresnya
di Jakarta. Kongres tersebut memutuskan untuk melebur KORI menjadi KOI atas
usul PSSI dan PASI, dengan pertimbangan untuk efisiensi kerja. Setelah itu KOI
merupakan satu-satunya organisasi yang membina keolahragaan nasional dan juga
bertugas mengurusi hubungan dengan organisasi keolahragaan di luar negeri
seperti Asian Games dan Olimpic Games. KOI bergabung dengan IOC pada tahun 1952
dengan Sri Sultan Hamengkubowono IX disahkan menjadi anggota IOC dari
Indonesia, yang kemudian dilanjutkan dengan keikutsertaan Indonesia di Olimpiade
yang diselenggarakan di Helsinki pada tahun 1952. Itu merupakan pertama kalinya
Indonesia ikut serta diajang Olimpiade yang ternyata tidak saja “mendemamkan”
olahraga khususnya olimpiade di tanah air, tetapi juga masyarakat Indonesia
yang berada di luar negeri. Betapa tidak karena nama Indonesia berada di antara
72 negara peserta Olimpiade dan tidak kurang 5200 olahragawan terpilih di
seluruh dunia ikut berpartisipasi, meskipun Indonesia baru pertama kali
mengikuti Olimpiade dan hanya mengirimkan 3 atlet saja namun pengalaman
tersebut sangat berharga. Terutama bagi atlet dan merupakan suatu kebanggaan
bagi bangsa Indonesia.
GANEFO I Jakarta
Persiapan penyelenggaraan Ganefo I
Jakarta 10 – 22 November 1963 menetapkan ada 5 usaha pokok yaitu :
1. Memobilisasi
Negara-negara peserta (48 negara hadir dan diikuti oleh 3000 atlet)
2. Pengerahan
potensi nasional (Pengerahan partai politik, pemuda, mahasiswa baik dipusat
maupun didaerah untuk menyukseskan ganefo)
3. Pengoorganisasian
perayaan Ganefo
4. Penyiapan
tim nasional Indonesia
5. Persiapan
pembiayaan
Penyelenggaraan
Ganefo
Akhirnya Ganefo I berhasil
diselenggrakan di Jakarta pada tanggal 10 - 22 November 1963 dengan
mempertandingkan 20 cabang olahraga dan Indonesia berhasil menempati rangking
III sesudah RRC I dan USSR ke II
Setelah prestasi yang didapat di
Ganefo presiden RI turun langsung memberikan perintah kepada aparaturnya yaitu
menteri olahraga agar prestasi olahraga dapat mencapai taraf internasional.
Rencana 10 tahun olahraga dan Departemen Olahraga
meliputi 5 program dasar:
Program Dasar I : mempertinggi potensi fisik nasional (gerakan masal
olahraga)
Program Dasar II : memperluas dan mengintensifkan gerakan olahraga
dilingkungan pemuda /pelajar
Program Dasar III : membina olahragawan yang potensial
dan berbakat tinggi
Program Dasar IV : menyediakan kelangkapan material dan spiritual untuk
penyelenggaraan program-program olahraga
Program Dasar V : konsultasi hasil Ganefo I dan
pengeloraan Gerakan Ganefo.
2.2 Pengembangan Pendidikan Jasmani dan Olahraga di Indonesia
Salah satu pertanyaan yang sering diajukan oleh guru-guru penjas belakangan
ini adalah: "Apakah pendidikan jasmani?" Pertanyaan yang cukup aneh
ini justru dikemukakan oleh yang paling berhak menjawab pertanyaan tersebut.
Hal ini mungkin terjadi karena pada waktu sebelumnya guru itu merasa dirinya
bukan sebagai guru pendidikan jasmani, melainkan guru pendidikan olahraga.
Perubahan pandangan itu terjadi menyusul perubahan nama mata pelajaran wajib
dalam kurikulum pendidikan di Indonesia, dari mata pelajaran pendidikan
olahraga dan kesehatan (orkes) dalam kurikulum 1984, menjadi pelajaran
pendidikan jasmani dan kesehatan (penjaskes) dalam kurikulum1994. Perubahan
nama tersebut tidak dilengkapi dengan sumber belajar yang menjelaskan makna dan
tujuan kedua istilah tersebut. Akibatnya sebagian besar guru menganggap bahwa
perubahan nama itu tidak memiliki perbedaan, dan pelaksanaannya dianggap sama.
Padahal muatan filosofis dari kedua istilah di atas sungguh berbeda, sehingga
tujuannya pun berbecla pula. Pertanyaannya, apa bedanya pendidikan olahraga
dengan pendidikan jasmani?
Pendidikan jasmani berarti program pendidikan lewat gerak atau permainan
dan olahraga. Di dalamnya terkandung arti bahwa gerakan, permainan, atau cabang
olahraga tertentu yang dipilih hanyalah alat untuk mendidik. Mendidik apa ?
Paling tidak fokusnya pada keterampilan anak. Hal ini dapat berupa keterampilan
fisik dan motorik, keterampilan berpikir dan keterampilan memecahkan masalah,
dan bisa juga keterampilan emosional dan sosial. Karena itu, seluruh adegan
pembelajaran dalam mempelajari gerak dan olahraga tadi lebih penting dari pada
hasilnya. Dengan demikian, bagaimana guru memilih metode, melibatkan anak,
berinteraksi dengan murid serta merangsang interaksi murid dengan murid
lainnya, harus menjadi pertimbangan utama.
Sedangkan pendidikan olahraga adalah pendidikan yang rnembina anak
agar menguasai cabang-cabang olahraga tertentu. Kepada murid diperkenalkan
berbagai cabang olahraga agar mereka menguasai keterampilan berolahraga. Yang
ditekankan di sini adalah hasil dari pembelajaran itu, sehingga metode
pengajaran serta bagaimana anak menjalani pembelajarannya didikte oleh tujuan
yang ingin dicapai. Ciri-ciri pelatihan olahraga menyusup ke dalam proses
pembelajaran. Dengan proses tersebut, dapat memberikan kekeliruan yang
berlarut-larut dalam proses pendidikan jasmani di Indonesia.
Yang sering
terjadi pada pembelajaran pendidikan olahraga adalah bahwa guru kurang
memperhatikan kemampuan dan kebutuhan murid. Jika siswa harus belajar bermain
bola voli, mereka belajar keterampilan teknik bola voli secara langsung.
Teknik-teknik dasar dalam pelajaran demikian lebih ditekankan, sementara
tahapan penyajian tugas gerak yang disesuaikan dengan kemampuan anak kurang
diperhatikan, kejadian tersebut merupakan salah satu kelemahan dalam pendidikan
olahraga. Guru demikian akan berkata: "kalau perlu tidak usah ada
pentahapan, karena anak akan dapat mempelajarinya secara langsung. Beri mereka
bola, dan instruksikan anak supaya bermain langsung". Anak yang sudah
terampil biasanya dapat menjadi contoh, dan anak yang belum terampil belajar
dari mengamati demonstrasi temannya yang sudah mahir tadi. Untuk pengajaran
model seperti ini, ada ungkapan: Kalau anda ingin anak-anak belajar renang,
lemparkan mereka ke kolam yang paling dalam, dan mereka akan bisa berenang
sendiri.
Tabel di bawah menekankan perbedaan antara pendidikan jasmani dengan
pendidikan olahraga.
|
Perbedaan antara Pendidikan Jasmani dan Pendidikan Olahraga
|
|||
|
Pendidikan Jasmani
|
Pendidikan
Olahraga
|
||
|
•
|
Sosialisasi atau mendidik via
Olahraga
|
•
|
Sosialisasi atau mendidik ke
dalam olahraga
|
|
•
|
Menekankan perkembangan
kepribadian menyeluruh
|
*
|
Mengutamakan penguasaan
keterampilan berolahraga
|
|
•
|
Menekankan penguasaan keterampilan dasar.
|
•
|
Menekankan penguasaan teknik dasar
|
Pendidikan jasmani tentu tidak bisa dilakukan dengan cara demikian.
Pendidikan jasmani adalah suatu proses yang terencana dan bertahap yang perlu
dibina secara hati-hati dalam waktu yang diperhitungkan. Bila orientasi
pelajaran pendidikan jasmani adalah agar anak menguasai keterampilan
berolahraga, misalnya sepak bola, guru akan lebih menekankan pada pembelajaran
teknik dasar dengan kriteria keberhasilan yang sudah ditentukan. Dalam hal ini,
guru tidak akan memperhatikan bagaimana agar setiap anak mampu melakukannya,
sebab cara melatih teknik dasar yang bersangkutan hanya dilakukan dengan cara
tunggal. Beberapa anak mungkin bisa mengikuti dan menikmati cara belajar yang
dipilih guru tadi. Tetapi sebagian lain merasa selalu gagal, karena bagi mereka
cara latihan tersebut
terlalu sulit, atau terlalu mudah. Anak-anak yang berhasil akan merasa puas
dari cara latihan tadi, dan segera menyenangi permainan sepak bola.
Lain lagi dengan anak-anak lain yang kurang berhasil? Mereka akan
serta merta merasa bahwa permainan sepak bola terlalu sulit dan tidak
menyenangkan, sehingga mereka tidak menyukai pelajaran dan permainan sepak bola
tadi. Apalagi bila ketika mereka melakukan latihan yang gagal tadi, mereka
selalu diejek oleh teman-teman yang lain atau bahkan oleh gurunya sendiri.
Anak-anak dalam kelompok gagal ini biasanya mengalami perasaan negatif.
Akibatnya, citra diri anak tidak berkembang dan anak cenderung menjadi anak
yang rendah diri.
Melalui pembelajaran pendidikan jasmani yang efektif, semua kecenderungan
tadi bisa dihapuskan, karena guru memilih cara agar anak yang kurang terampil
pun tetap menyukai latihan memperoleh pengalaman sukses. Di samping guru
membedakan bentuk latihan yang harus dilakukan setiap anak, kriteria
keberhasilannya pun dibedakan pula. Untuk kelompok mampu kriteria keberhasilan
lebih berat dari anak yang kurang mampu, misalnya dalam pelajaran renang di
tentukan: mampu meluncur 10 meter untuk anak mampu, dan hanya 5 meter untuk
anak kurang mampu.
Dengan cara demikian, semua anak merasakan apa yang disebut perasaan
berhasil tadi, dan anak makin menyadari bahwa kemampuannya pun meningkat,
seiring clengan seringnya mereka mengulang-ulang latihan. Cara ini disebut gaya
mengajar partisipatif karena semua anak merasa dilibatkan dalam proses
pembelajaran.
Untuk mencegah terjadinya bahaya lain dari kegagalan, guru pendidikan
jasmani dan olahraga harus mengembangkan cara respon siswa terhadap anak yang
gagal dan melarang siswa untuk melemparkan ejekan pada temannya. Sebagai konsep
pelaksanaan pendidikan jasmani dan olahraga di Indonesia, maka diilustr asikan
dalam bagan berikut ini.
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
3.1.1 Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan
bahwa Indonesia sejak jaman pra sejarah sudah mengenal olahraga melalui
penjajah yang menjajah negeri ini, walaupun sedikit peningkatan tetapi dengan
adanya pengenalan olahraga di lingkungan sekolah olahraga menjadi popular dan
sangat digemari oleh orang-orang pada masa itu.Dengan adanya olahraga di tanah
air pemerintah membentuk sebuah kompetisi yang memperebutkan gelar dan gengsi
dalam bidang olahraga yaitu dengan diselenggarakannya PON dan GANEFO. Selain
itu olahraga juga berfungsi sebagai alat pemersatu bangsa, karena dengan
olahraga semua atlet bisa saling mengenal dan bekerjasama untuk menjadi
pemenang.
3.1.2 Pengembangan olahraga di Indonesi sudah cukup
memadai hal ini disebabkan perencanaan dan program telah dilakukan secara
terencana sistematis dan berkesinambungan. Namun bila dibandingkan dengan
negara-negara lain kita masih perlu pembenahan atau meningkatkan upaya-upaya
diberbagai bidang khususnya pada bidang IPTEK. Sedangkan pendidikan
jasmani dalam pelaksanaannya masih banyak kendala-kendala yang dihadapi
seperti: sarana dan prasarana, pemahaman guru penjas itu, masih banyak yang
kurang memahami tentang hakikat pendidikan jasmani yang sebenarnya, sehingga
pelaksanaannya-pun masih mirip dengan olahraga.
DAFTAR PUSTAKA
Ateng Abdul Kadir ,1989. Pengantar Asas Asas Landasan
Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Rekreasi. Jakarta: P2LPTK Dtjen Dikti.
2007. Filsafat Olahraga dan Tantangan Pembangunan
Olahraga Indonesia Pada Masa Mendatang. Makalah disampaikan pada seminar
keolahragaan Indonesia di Singaraja, Bali: 26 Mei
Mahedra
Agus. 2009. Asas dan Falsafah Pendidikan Jasmani.Bandung. Progran Studi
Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi, Fakultas Pendidikan Olahraga dan
Kesehatan Universitas Pendidikan Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar